Jumat, 11 April 2014

Mengenal Resensi Buku

gambar resensi buku

A. Melacak Asal Kata Resensi
Patut disyukuri bahwa kini banyak media massa aetak memuat resensi buku. Kebaikan dan kebijaksanaan pengelola surat kabar atau majalah yang telah memberikan ruang bagi para peninjau buku, merupakan angin segar bagi para bookholic (kutu buku). Kondisi seperti ini amat jauh berbeda dengan warsa 1960, media massa begitu jarang memberikan ruang bagi peninjau buku. Itu artinya pendapat pribadi kian dihargai di negeri ini (Wilson Nadeak, 1994: 246).

Dari sekian buku dan artikel yang berbicara tentang resensi. Kata resensi memang jarang dipasang sebagai nama rubrik dalam media massa. Media massa menyediakan ruang resensi buku dengan beragam nama, seperti Tinjauan Buku, Pustaka, Bedah Buku, Resensi Buku, Kupas Buku, dan media bernapaskan Islam memakai ruang resensi dengan nama Kitabah atau Telaah Kitab. Padahal, semua itu pada hakikatnya berupa resensi.

Menurut Daniel Samad (1997: 1), resensi asal katanya dan bahasa Latin, yakni revidere (re= kembali dan videre= melihat) atau recensere, yang artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Dalam bahasa Belanda dikenal kata recensie, sedangkan dalam bahasa lnggris dikenal dengan istilah review. Semua istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku. Dengan adanya resensi buku, pembaca yang ada di seluruh Nusantara menjadi mudah dengan kabar buku terbaru sehingga menimbulkan minat mereka untuk ‘membeli’ dan membaca buku tersebut.

Pengertian “melihat kembali” meluas menjadi “mengatakan kembali” secara tertulis tentang pengalaman yang dirasakan dan dilihatnya atas sebuah karya (buku) dengan objektif. Simpulannya, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai sebuah hash karya (buku).

Dalam praktiknya, resensi mi dibedakan aritara review (tinjauan) dan criticism (timbangan). Tinjauan berarti sajian laporan tanpa disertai opini pribadi peninjau sebab mungkin bukan seorang ahli dalam bidang yang dibicarakan pada buku bersangkutan sehingga tulisannya menyerupai ikhtisar atau ringkasan, sedangkan penimbang buku pasti mencerminkan opini pribadi resensi. Menimbang buku atau mengkritik buku itu akan bergerak dari satu objek ke subjek. Biasanya penulis resensi seperti ini seorang yang pakar atau setidaknya seseorang yang dianggap mengetahui persoalan persoalan bahkan resensinya cenderung merupakan hasil evaluasi. Tidak jarang pula berbau analitik dan interpretatif. Dalam hal ini, resensor itu tidak lagi membicarakan isi buku, tetapi konteks dan relevansinya.